Kebuntuan politik dan militer di Yaman kian mengeras seiring memburuknya hubungan antara Dewan Kepemimpinan Kepresidenan (PLC), Dewan Transisi Selatan (STC), dan para aktor regional. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Yaman tidak lagi bergerak menuju penyelesaian konflik, melainkan meluncur ke fase konflik beku yang berkepanjangan.
Dalam konflik beku, perang terbuka mereda, tetapi akar masalah tidak pernah diselesaikan. Wilayah, pemerintahan, dan kekuatan bersenjata tetap terpisah tanpa kesepakatan politik final. Model ini bukan hal baru dalam politik internasional, dan preseden global memberi gambaran tentang ke mana arah Yaman bisa bergerak.
Kasus Kosovo sering dijadikan contoh bagaimana konflik beku dapat berujung pada pengakuan parsial. Kosovo bertahan lama sebagai wilayah de facto di bawah perlindungan internasional sebelum sebagian negara mengakuinya sebagai negara merdeka. Namun, pengakuan itu tidak universal dan meninggalkan sengketa jangka panjang dengan Serbia.
Jika dibandingkan, STC memiliki kesamaan terbatas dengan Kosovo. STC menguasai wilayah dan institusi lokal, tetapi tidak memiliki payung internasional yang solid. Tanpa mandat internasional atau restu aktor besar, peluang selatan Yaman mengikuti jalur Kosovo masih sangat terbatas.
Model lain terlihat pada Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Mereka menguasai wilayah luas, memiliki struktur pemerintahan sendiri, dan efektif secara militer, tetapi tetap berada dalam status abu-abu. SDF bertahan karena perlindungan eksternal yang konsisten, bukan karena pengakuan negara.
STC dalam banyak hal lebih dekat dengan model SDF. Ia kuat di lapangan, tetapi keberlangsungannya sangat bergantung pada dukungan eksternal. Jika dukungan itu berkurang atau berubah arah, posisi STC bisa melemah secara cepat meski tetap menguasai wilayah.
Contoh konflik beku yang lebih keras terlihat di Transnistria. Wilayah ini bertahan puluhan tahun tanpa pengakuan internasional, hidup dalam ketergantungan ekonomi dan keamanan pada sponsor eksternal. Stabilitasnya bersifat statis, tanpa prospek politik jangka panjang yang jelas.
Jika Yaman selatan jatuh ke pola Transnistria, maka STC akan bertahan sebagai entitas de facto yang hidup dari status quo. Tidak ada perang besar, tetapi juga tidak ada negara. Generasi baru tumbuh dalam ketidakpastian politik dan ekonomi.
Ossetia Selatan dan Abkhazia menawarkan model lain. Kedua wilayah ini memperoleh pengakuan terbatas setelah konflik, namun hanya dari sedikit negara. Ketergantungan penuh pada satu sponsor membuat mereka aman secara militer, tetapi terisolasi secara ekonomi dan diplomatik.
Bagi STC, jalur Ossetia Selatan atau Abkhazia berarti keamanan jangka pendek dengan harga mahal. Tanpa pengakuan luas dan tanpa integrasi ekonomi regional, wilayah tersebut akan terjebak dalam ketergantungan struktural yang sulit dilepaskan.
Kasus Somaliland menjadi pembanding paling relevan bagi Yaman selatan. Somaliland berhasil membangun stabilitas, pemerintahan, dan pemilu selama puluhan tahun tanpa pengakuan internasional. Ia berfungsi sebagai negara, tetapi tidak diakui sebagai negara.
Namun, keberhasilan relatif Somaliland ditopang oleh konsensus internal yang kuat dan minimnya intervensi eksternal yang saling bertabrakan. Kondisi ini berbeda dengan Yaman selatan yang masih sarat faksi, milisi, dan kepentingan regional.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa kebuntuan Yaman kemungkinan besar tidak akan berakhir cepat. Jalur yang paling realistis adalah konflik beku dengan tingkat kekerasan rendah, tetapi ketegangan politik tinggi.
Dalam skenario ini, PLC bisa bergerak ke arah konsolidasi di wilayah utara dan timur, termasuk kemungkinan kesepakatan dengan Houthi. Sementara itu, STC bertahan di selatan sebagai penguasa de facto tanpa status negara.
Saudi dan aktor regional lainnya cenderung menoleransi kebuntuan semacam ini selama kepentingan inti mereka, terutama keamanan perbatasan, tetap terjaga. Konflik beku sering dianggap lebih dapat dikelola daripada perang terbuka.
Namun, konflik beku bukanlah solusi. Ia hanya membekukan krisis, bukan menyelesaikannya. Ketidakpastian hukum, ekonomi, dan politik akan terus membayangi masyarakat sipil.
Seperti Kosovo dan Somaliland, waktu akan menjadi faktor penentu. Jika STC mampu membangun legitimasi internal dan tata kelola yang konsisten, peluang jangka panjang tetap terbuka meski pengakuan lambat.
Sebaliknya, jika fragmentasi internal berlanjut seperti di Transnistria atau Ossetia Selatan, kebuntuan akan berubah menjadi stagnasi permanen.
Bagi Yaman secara keseluruhan, jalur konflik beku berarti hilangnya momentum rekonstruksi nasional. Negara tetap ada di peta, tetapi tidak sepenuhnya berfungsi sebagai satu kesatuan.
Pada akhirnya, sejarah konflik menunjukkan bahwa kebuntuan jarang bertahan selamanya. Ia selalu berakhir pada konsolidasi, pemisahan formal, atau krisis baru. Pertanyaannya bukan apakah kebuntuan Yaman akan berakhir, melainkan dalam bentuk apa dan dengan harga sosial serta politik sebesar apa.
loading...
Post a Comment